Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memproyeksikan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bakal menunjukkan titik balik kinerja yang signifikan pada awal 2026. Optimisme ini muncul setelah perusahaan pelat merah tersebut menerima suntikan dana segar sebesar Rp23,67 triliun dari Danantara, yang ditujukan untuk mempercepat transformasi bisnis dan menyehatkan operasional maskapai nasional tersebut di tengah tekanan laporan keuangan tahun 2025 yang mencatatkan rugi bersih sebesar 319,39 juta dolar AS.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menegaskan bahwa angka kerugian yang tercatat sepanjang 2025 tidak bisa dijadikan tolok ukur kegagalan intervensi. Menurutnya, laporan keuangan tersebut mencerminkan kondisi perusahaan sebelum injeksi modal dilakukan. Dony menjelaskan bahwa dampak nyata dari suntikan dana baru akan terlihat pada kuartal pertama dan kedua tahun 2026, di mana proses perbaikan operasional mulai berjalan secara sistematis.
Salah satu tantangan fundamental yang sempat melumpuhkan Garuda selama 2025 adalah banyaknya pesawat yang tidak beroperasi (grounded). Kondisi ini menjadi beban ganda karena maskapai tetap harus membayar biaya sewa, sementara kapasitas terbang berkurang drastis. Selain itu, kompleksitas perawatan pesawat atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) menjadi hambatan yang memakan waktu cukup panjang. Dengan intervensi Danantara, fokus utama kini dialihkan pada percepatan pengembalian pesawat ke udara agar bisa kembali menghasilkan pendapatan.
Secara strategis, alokasi dana Rp23,67 triliun tersebut memang dirancang untuk membedah masalah dari akarnya. Sekitar Rp8,7 triliun dialokasikan untuk pemeliharaan pesawat dan peningkatan layanan agar standar kualitas Garuda tetap kompetitif. Sementara itu, Rp14,9 triliun sisanya digelontorkan untuk memperkuat operasional Citilink, termasuk menuntaskan kewajiban bahan bakar kepada Pertamina yang tertunda sejak 2019 hingga 2021. Langkah ini dianggap krusial untuk membersihkan neraca keuangan dari utang masa lalu yang membebani likuiditas grup.
Dampak dari kebijakan ini tidak hanya sekadar menyelamatkan arus kas, tetapi juga membangun kepercayaan investor dan pelanggan. Jika Garuda berhasil mengembalikan armada yang grounded ke angka optimal, efisiensi operasional akan meningkat secara eksponensial. Keberhasilan ini nantinya akan menjadi preseden penting bagi Danantara dalam mengelola aset-aset negara. Jika transformasi ini berjalan sesuai rencana, Garuda tidak hanya akan keluar dari jeratan kerugian, tetapi juga mampu mengembalikan posisinya sebagai tulang punggung konektivitas udara nasional yang efisien dan menguntungkan.
Sebagai catatan tambahan, transformasi Garuda bukan sekadar persoalan menyuntikkan dana. Dony Oskaria menegaskan bahwa uang bukanlah solusi tunggal. Manajemen Danantara kini tengah mengawal proses transformasi manajerial dan operasional yang lebih ketat di dalam tubuh Garuda. Sinyal positif mulai terlihat dari kinerja Citilink pada kuartal pertama 2026 yang sudah mencatatkan hasil menggembirakan, menjadi indikator awal bahwa grup Garuda sedang bergerak menuju jalur pemulihan yang tepat.
Ke depan, tantangan terbesar Garuda adalah menjaga momentum ini agar tidak terhenti di tengah jalan. Meski indikator awal telah menunjukkan perbaikan, tantangan eksternal seperti fluktuasi harga bahan bakar dan dinamika industri penerbangan global tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi. Namun, dengan dukungan penuh dari Danantara dan komitmen pada efisiensi operasional, Garuda Indonesia kini memiliki peluang lebih besar untuk lepas landas dari zona turbulensi dan kembali mencatatkan laba yang sehat bagi negara.