Kredivo mencatat lonjakan signifikan pada penggunaan layanan PayLater selama periode Ramadan dan Lebaran 2026, dengan volume transaksi melonjak 27 persen dan nilai transaksi naik 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini mencerminkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat Indonesia yang kini semakin mengandalkan fleksibilitas pembayaran digital untuk memenuhi kebutuhan musiman, sekaligus menegaskan posisi PayLater sebagai instrumen finansial yang krusial dalam ekosistem belanja daring nasional.
Data internal Kredivo menunjukkan adanya pergeseran pola penggunaan yang menarik, di mana tenor satu bulan kini menjadi primadona di kalangan pengguna. Senior Vice President Marketing & Communications Kredivo, Indina Andamari, menjelaskan bahwa banyak konsumen memilih tenor singkat ini sebagai strategi pengelolaan arus kas sebelum pencairan gaji maupun Tunjangan Hari Raya (THR). Keberadaan fitur bunga nol persen dan bebas biaya admin pada tenor satu bulan menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang ingin menjaga stabilitas keuangan di tengah tingginya pengeluaran selama bulan suci.
Fenomena ini juga menandai pergeseran fungsi PayLater di masyarakat. Jika dulu layanan ini identik dengan pembelian barang mewah atau barang bernilai besar, kini fungsinya telah bergeser menjadi alat bantu pemenuhan kebutuhan harian. Data Kredivo memperlihatkan rata-rata transaksi per pengguna berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta dengan frekuensi mencapai 4-5 kali transaksi. Yang paling mencolok adalah pertumbuhan kategori groceries atau belanja kebutuhan pokok yang meroket hingga 160 persen. Artinya, masyarakat kian nyaman menggunakan PayLater untuk belanja rutin, membuktikan bahwa layanan ini telah masuk ke dalam ekosistem konsumsi dasar rumah tangga.
Secara makro, tren positif ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hingga Februari 2026, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan tercatat tumbuh 53,53 persen secara year-on-year, mencapai angka Rp12,59 triliun. Meskipun sempat terjadi sedikit perlambatan dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026, OJK tetap optimistis bahwa industri ini akan terus berekspansi sepanjang tahun. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyebut bahwa pertumbuhan ini didorong oleh pesatnya perkembangan ekosistem digital serta tingginya permintaan akan akses keuangan yang fleksibel dari segmen usia produktif.
Namun, di balik pertumbuhan yang masif, tantangan terkait risiko kredit tetap mengintai. OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPF) gross pada sektor BNPL berada di angka 2,79 persen per Februari 2026, sedikit naik dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tipis ini menjadi alarm bagi penyedia layanan dan regulator untuk terus memperketat prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, terutama di tengah gaya hidup masyarakat yang semakin mudah mengakses utang digital.
Dampak jangka panjang dari tren ini adalah transformasi mendalam pada perilaku belanja masyarakat kelas menengah ke bawah. Akses yang mudah terhadap PayLater memang memberikan kemudahan likuiditas instan, namun sekaligus menuntut literasi keuangan yang lebih matang agar tidak terjebak dalam siklus utang konsumtif. Ke depan, keberlanjutan industri PayLater akan sangat bergantung pada bagaimana pemain industri mampu menyeimbangkan antara kemudahan akses bagi segmen unbanked dengan kemampuan menjaga kualitas portofolio kredit yang sehat di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
Melihat tren yang terus menanjak, dapat disimpulkan bahwa PayLater bukan lagi sekadar tren musiman, melainkan instrumen keuangan yang sudah melekat dalam keseharian masyarakat Indonesia. Sinergi antara inovasi produk dari penyedia jasa dan pengawasan ketat dari otoritas akan menjadi penentu apakah layanan ini dapat terus memberikan dampak positif bagi inklusi keuangan nasional atau justru menjadi beban baru bagi daya beli masyarakat di masa depan.