Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan tajam hingga 10 persen pada Jumat, 17 April 2026, setelah pemerintah Iran secara resmi mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial. Data dari Trading Economics menunjukkan bahwa kontrak berjangka minyak Brent sempat merosot ke level di bawah US$ 90 per barel, bahkan menyentuh titik terendah di angka US$ 86 per barel pada pukul 21.00 waktu setempat. Kondisi serupa dialami oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat yang ikut terperosok ke level US$ 84 per barel.
Keputusan Iran untuk membuka jalur vital tersebut menjadi angin segar bagi stabilitas energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi bagi perdagangan energi internasional, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia harus melintasi perairan sempit ini setiap harinya. Penutupan yang dilakukan Iran sejak akhir Februari 2026 lalu, sebagai respons atas ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel, sempat memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis pasokan global yang berkepanjangan.
Dampak dari pelonggaran ini dirasakan langsung oleh pelaku industri energi nasional. PT Pertamina International Shipping (PIS) segera merespons pengumuman tersebut dengan menyiapkan armada mereka yang sempat tertahan. Pejabat Sementara Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan bahwa dua kapal tanker milik perseroan, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, kini tengah dipersiapkan untuk melintasi selat tersebut. Saat ini, tim operasional Pertamina sedang mematangkan perencanaan pelayaran (passage plan) guna memastikan distribusi energi berjalan aman dan lancar setelah sempat terhambat akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Secara fundamental, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi indikator positif bagi peredaan ketegangan di Timur Tengah. Optimisme pasar semakin menguat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan sinyal bahwa konsesi yang diberikan Iran berpotensi membuka pintu menuju kesepakatan perdamaian yang lebih komprehensif di kawasan tersebut. Hal ini sejalan dengan momen gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang sedang berlangsung, menciptakan atmosfer yang lebih kondusif bagi pemulihan rantai pasok energi global yang sempat terdisrupsi.
Perlu dipahami bahwa Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa; ia adalah titik chokepoint paling strategis dalam peta energi dunia. Ketika jalur ini tertutup, biaya logistik membengkak karena kapal tanker terpaksa mengambil rute memutar yang lebih panjang dan berisiko, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga BBM hingga komoditas di tingkat konsumen. Oleh karena itu, pembukaan kembali jalur ini secara langsung menekan spekulasi harga di pasar komoditas yang sempat melambung tinggi akibat ketidakpastian keamanan selama beberapa bulan terakhir.
Meskipun harga sempat terkoreksi ke kisaran US$ 91 per barel untuk Brent dan US$ 83 per barel untuk WTI hingga Sabtu sore, pasar tampaknya masih akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Stabilitas pasokan energi global kini bergantung pada konsistensi perdamaian di kawasan tersebut. Bagi Indonesia, normalisasi jalur logistik ini menjadi kabar baik untuk menjaga neraca perdagangan dan memastikan kelancaran distribusi BBM nasional yang sangat bergantung pada kelancaran arus transportasi laut di jalur internasional. Dunia kini menanti apakah langkah diplomasi ini akan menjadi pembuka bagi era yang lebih stabil bagi pasar energi global.