Jakarta menargetkan terbebas dari masalah penumpukan sampah dalam dua tahun ke depan melalui implementasi proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa operasional penuh teknologi ini akan mengakhiri era ketergantungan pada pembuangan terbuka (open dumping) yang selama ini memicu polusi bau dan pemandangan kumuh di ibu kota. Langkah strategis ini resmi dimulai menyusul penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Senin, 4 Mei 2026.
Saat ini, beban sampah Jakarta memang sudah berada di titik kritis. Data menunjukkan volume sampah yang dihasilkan mencapai 8.000 ton setiap harinya. Sebagian besar dari limbah tersebut berakhir di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Bahkan, tumpukan sampah di lokasi tersebut kini disebut-sebut telah mencapai ketinggian setara gedung 17 lantai, melampaui kapasitas maksimal yang seharusnya mampu ditampung oleh lahan tersebut.
Proyek ambisius ini nantinya akan menyulap ribuan ton sampah menjadi sumber energi terbarukan. Pemerintah telah memberikan lampu hijau melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang menjadi payung hukum percepatan penanganan darurat sampah. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, telah mengusulkan dua titik strategis untuk pembangunan fasilitas PSEL, yakni kawasan Bantar Gebang dan Tanjungan Kamal Muara. Dengan dukungan investasi dari Danantara yang ditaksir mencapai US$ 1 juta, proyek ini diproyeksikan mulai beroperasi penuh pada tahun 2028.
Kehadiran PSEL ini bukan sekadar urusan kebersihan kota, melainkan langkah vital dalam transisi energi nasional. Dengan mengubah limbah menjadi listrik, Jakarta tidak hanya menyelesaikan masalah estetika dan kesehatan lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada diversifikasi bauran energi hijau. Dampak positifnya sangat luas; selain mengurangi ketergantungan pada lahan pembuangan yang semakin menyempit, metode ini secara drastis menekan emisi gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah organik, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca terbesar dari sektor limbah perkotaan.
Teknologi PSEL yang akan diterapkan dirancang untuk menjadi solusi "sapu bersih". CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa sistem ini direncanakan mampu mengolah sampah baru maupun sampah lama yang sudah menumpuk bertahun-tahun tanpa memerlukan proses pemilahan yang rumit. Meski efisiensinya mungkin sedikit lebih rendah saat mengolah sampah lama, langkah ini dianggap sebagai satu-satunya cara paling realistis untuk "membersihkan" Jakarta dari warisan limbah masa lalu secara cepat dan masif.
Tentu saja, tantangan terbesar setelah pembangunan fasilitas ini adalah konsistensi operasional dan manajemen logistik pengangkutan sampah dari seluruh sudut Jakarta menuju lokasi pengolahan. Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, Jakarta akan mencetak preseden baru bagi kota-kota besar di Indonesia dalam mengelola limbah perkotaan secara modern. Penuntasan proyek ini bukan hanya soal teknologi, melainkan tentang komitmen nyata pemerintah untuk menjamin lingkungan yang lebih sehat dan layak huni bagi jutaan warga Jakarta di masa depan.