ASDP Pastikan Jalur Penyeberangan Bitung-Ternate Tetap Beroperasi Normal Pasca-Gempa M 7,6

Diposting pada

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan seluruh layanan penyeberangan di wilayah Bitung, Sulawesi Utara, dan Ternate, Maluku Utara, tetap berjalan aman dan terkendali pasca-gempa berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang kawasan tersebut pada Kamis, 2 April 2026. Meski pusat gempa berada di laut pada kedalaman 33 km dengan jarak 129 km dari arah tenggara Bitung, perusahaan pelat merah tersebut menegaskan bahwa tidak ada kerusakan infrastruktur pelabuhan maupun armada yang menghambat mobilitas masyarakat.

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyatakan bahwa pihaknya telah mengaktifkan prosedur tanggap darurat sejak guncangan terjadi pada pukul 05.48 WIB. Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan pengguna jasa sekaligus menjaga rantai pasok logistik tetap tersambung di tengah potensi gempa susulan. Langkah koordinasi intensif terus dilakukan antara manajemen pusat, cabang Bitung, dan cabang Ternate untuk memantau kondisi perairan serta fasilitas pendukung di lapangan secara real-time.

Keberlangsungan operasional ini memiliki dampak krusial bagi stabilitas ekonomi dan sosial di wilayah Indonesia Timur. Mengingat jalur Bitung-Ternate merupakan salah satu urat nadi utama bagi distribusi barang kebutuhan pokok dan mobilitas masyarakat, gangguan sekecil apa pun pada sektor penyeberangan berpotensi memicu hambatan logistik yang luas. Dengan tetap beroperasinya kapal-kapal feri, ASDP secara tidak langsung menjaga agar dinamika ekonomi di wilayah kepulauan tetap stabil dan tidak terhenti akibat bencana alam yang baru saja terjadi.

Sebagai langkah mitigasi tambahan, ASDP telah melakukan pengecekan menyeluruh terhadap enam kapal yang melayani 11 lintasan di wilayah tersebut. Salah satu kapal, KMP Ranaka, bahkan tetap beroperasi di rute Bitung-Tobelo meski sempat berada di radius 65 mil dari episenter gempa. Di sisi lain, untuk menjamin keamanan internal, ASDP menerapkan kebijakan work from home (WFH) bagi karyawan non-operasional, sementara staf operasional di lapangan tetap siaga penuh guna memastikan pelayanan kepada pengguna jasa tidak terganggu sedikit pun.

Secara teknis, operasional di Pelabuhan Bastiong, Rum, dan Sidangole dilaporkan berjalan normal tanpa hambatan. Armada seperti KMP Dalente Woba dan KMP Portlink VIII juga terpantau menjalankan jadwal keberangkatan sesuai rencana. Kondisi perairan yang relatif landai pascagempa turut membantu kelancaran proses sandar dan bongkar muat di dermaga, sehingga alur distribusi barang tetap terjaga dengan baik tanpa ada laporan kerusakan pada fasilitas penunjang pelabuhan.

Ke depan, ASDP menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kewaspadaan melalui koordinasi yang ketat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kesiapan armada dan personel di lapangan akan terus dipantau untuk mengantisipasi potensi gempa susulan yang mungkin terjadi. Stabilitas layanan penyeberangan ini menjadi bukti bahwa mitigasi bencana yang terencana mampu meminimalisir kepanikan publik dan memastikan konektivitas antarwilayah tetap terjaga meski dalam situasi darurat sekalipun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *