PT PLN (Persero) resmi memulai proses tender proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mentari Nusantara I dengan total kapasitas mencapai 1,225 gigawatt (GW) pada 30 April 2026. Melalui skema pengadaan konsolidasi yang diberi nama GIGA ONE, PLN menggabungkan berbagai paket proyek PLTS yang tersebar di seluruh Indonesia ke dalam satu kesatuan strategis. Langkah ini menjadi tonggak krusial dalam mempercepat target transisi energi nasional sekaligus menciptakan efisiensi masif dalam proses pengadaan hingga konstruksi pembangkit listrik tenaga surya berskala besar.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa strategi bundling ini adalah terobosan fundamental dalam model pengadaan energi terbarukan di Indonesia. Dengan mengonsolidasikan proyek dalam satu paket besar, PLN berhasil menciptakan skala ekonomi yang lebih optimal, sehingga memberikan kepastian yang lebih terukur bagi para investor. Selain itu, pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan aksesibilitas pembiayaan perbankan terhadap proyek, mengingat struktur pengadaan yang lebih terintegrasi dan efisien dibandingkan metode konvensional yang cenderung terfragmentasi.
Dampak dari inisiatif ini tidak hanya terbatas pada sektor kelistrikan semata. Secara makro, percepatan pembangunan PLTS ini akan memperkuat bauran energi bersih nasional dan mendukung kemandirian energi Indonesia. Di sisi lain, proyek ini diproyeksikan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi daerah melalui penciptaan green jobs atau lapangan kerja berbasis ramah lingkungan. Dengan skala proyek yang masif, keterlibatan tenaga kerja lokal dan rantai pasok dalam negeri diharapkan dapat terakselerasi, memberikan efek domino positif bagi industri nasional secara keseluruhan.
Lebih jauh, Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menjelaskan bahwa PLTS Mentari Nusantara I merupakan flagship program yang menjadi garda terdepan untuk mendukung target pemerintah mencapai kapasitas PLTS hingga 100 GW di masa depan. Fokus utama dari program ini bukan sekadar mengejar target kapasitas, melainkan juga meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Dengan mengumpulkan proyek dalam satu payung GIGA ONE, PLN dapat memberikan kepastian demand bagi produsen komponen lokal, yang pada gilirannya akan memperkuat ekosistem manufaktur energi surya di dalam negeri.
Penyebaran proyek ini dirancang secara proporsional untuk memperkuat stabilitas sistem kelistrikan nasional. Kapasitas 1,225 GW tersebut akan tersebar di sejumlah titik strategis, yakni Jawa sebesar 600 megawatt (MW), Kalimantan 340 MW, Nusa Tenggara Barat 80 MW, Sulawesi 50 MW, Sumatera 35 MW, serta Maluku dan Papua sebesar 120 MW. Seluruh rangkaian proyek ini ditargetkan tuntas dan mencapai Commercial Operation Date (COD) pada tahun 2029 mendatang.
Keberhasilan implementasi GIGA ONE pada proyek PLTS ini nantinya akan menjadi cetak biru (blueprint) bagi pengembangan energi terbarukan lainnya di Indonesia. PLN telah merencanakan untuk mereplikasi strategi pengadaan terintegrasi ini pada proyek pembangkit listrik tenaga air (hidro), tenaga bayu (angin), serta sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS). Langkah ini menandai era baru bagi PLN dalam memitigasi risiko proyek sekaligus memastikan bahwa transisi menuju energi bersih dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan berkelanjutan demi masa depan energi nasional yang lebih mandiri.