Pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan dua pabrik pengolahan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Cilamaya, Jawa Barat, dan Tuban, Jawa Timur, akan mulai beroperasi penuh pada akhir April 2026. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4), mengungkapkan bahwa kedua fasilitas ini diproyeksikan mampu menambah pasokan gas domestik hingga kurang lebih 200 metrik ton per hari.
Langkah ini menjadi krusial di tengah tren kebutuhan LPG nasional yang terus merangkak naik. Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG masyarakat mencapai 26 ribu metrik ton per hari sepanjang awal 2026. Dengan tambahan produksi dari Cilamaya yang menyumbang 163 metrik ton per hari dan Tuban sebesar 30 metrik ton per hari, pemerintah berupaya memperkuat kemandirian energi nasional secara bertahap. Hingga saat ini, progres pembangunan pabrik di Cilamaya telah menyentuh angka 92,9 persen, sementara fasilitas di Tuban sedang dalam tahap uji coba akhir.
Kehadiran pabrik-pabrik baru ini bukan sekadar penambahan angka produksi, melainkan strategi mitigasi risiko geopolitik yang nyata. Selama ini, Indonesia sangat bergantung pada pasokan luar negeri, terutama dari Amerika Serikat yang menyumbang hampir 69 persen dari total impor. Situasi keamanan di Selat Hormuz yang tidak menentu belakangan ini telah memaksa pemerintah mencari alternatif pasokan yang lebih stabil dan aman dari gangguan logistik global. Dengan memproduksi LPG di dalam negeri, Indonesia secara perlahan mengurangi kerentanan terhadap gejolak harga dan hambatan distribusi internasional yang bisa berdampak langsung pada stabilitas harga LPG di tingkat rumah tangga.
Sebagai gambaran teknis, operasionalisasi pabrik di Cilamaya mencakup instalasi kompleks mulai dari feed gas line hingga terminal unloading LPG dan kondensat. Ke depannya, SKK Migas telah menyusun peta jalan jangka panjang untuk terus memacu kapasitas produksi domestik. Setelah Cilamaya dan Tuban, pemerintah telah menjadwalkan pembangunan LPG Plant Jambi Merang dengan kapasitas produksi yang jauh lebih besar, yakni 320 metrik ton per hari, yang ditargetkan beroperasi pada kuartal II 2027. Selain itu, proyek serupa di Senoro, Sulawesi Tengah, dan tambahan fasilitas di Jawa Timur juga telah masuk dalam agenda strategis nasional untuk memperkuat infrastruktur energi hingga tahun 2027.
Upaya pemerintah menggenjot produksi dalam negeri memang menjadi tantangan besar, mengingat selisih antara kebutuhan konsumsi yang mencapai puluhan ribu metrik ton dengan produksi domestik masih cukup lebar. Namun, rangkaian peresmian pabrik-pabrik ini menunjukkan komitmen serius negara untuk tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar impor. Keberhasilan operasional pabrik di Cilamaya dan Tuban nantinya diharapkan tidak hanya menjadi seremonial peresmian semata, tetapi menjadi titik balik bagi Indonesia untuk secara perlahan melepas ketergantungan pada rantai pasok LPG global yang penuh ketidakpastian. Dengan dukungan infrastruktur yang masif, mimpi untuk mencapai ketahanan energi yang berdaulat bukan lagi sekadar wacana, melainkan target yang kini berada di depan mata.