Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi menggalakkan penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang sebagai langkah mitigasi utama dalam menghadapi ancaman fenomena iklim ekstrem "Godzilla El Nino" yang berpotensi memicu kekeringan panjang di berbagai sentra produksi padi nasional. Melalui metode ini, pemerintah menargetkan efisiensi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa mengorbankan volume produksi, demi menjaga stabilitas pangan di tengah ketidakpastian cuaca yang kian ekstrem di sepanjang tahun 2026.
Secara teknis, metode AWD bekerja dengan cara tidak membiarkan lahan sawah tergenang secara terus-menerus. Sawah akan dibiarkan mengering secara alami hingga mencapai titik kelembapan tertentu sebelum akhirnya diairi kembali. Untuk memantau kondisi air di bawah permukaan tanah, petani hanya memerlukan alat sederhana berupa pipa paralon yang dilubangi dan ditanam di area sawah. Pipa tersebut berfungsi layaknya indikator, di mana air baru akan dialirkan kembali ketika permukaan air di dalam pipa telah menyentuh ambang batas 10 hingga 15 sentimeter di bawah permukaan tanah.
Dampak dari penerapan teknologi ini sangat krusial bagi ketahanan pangan nasional. Dengan efisiensi air sebesar 20 persen, daerah-daerah yang selama ini memiliki keterbatasan pasokan air irigasi kini memiliki peluang untuk memperluas cakupan layanan irigasi ke lahan-lahan yang sebelumnya tidak terjangkau. Selain itu, kondisi tanah yang tidak selalu jenuh air justru memperbaiki struktur tanah dan memperkuat sistem perakaran tanaman, sehingga padi menjadi lebih tangguh menghadapi cekaman kekeringan maupun perubahan cuaca yang fluktuatif.
Lebih jauh lagi, metode AWD bukan sekadar teknik penghematan air, melainkan bagian dari pendekatan climate smart agriculture (pertanian cerdas iklim). Selain menjaga produktivitas, teknik ini terbukti mampu menekan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah. Pengurangan penggenangan air secara terus-menerus membantu menekan aktivitas bakteri anaerob yang melepaskan metana, sehingga sektor pertanian dapat berkontribusi positif terhadap mitigasi perubahan iklim global sekaligus tetap menjaga produktivitas bagi petani di lapangan.
Teknologi ini sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia. Dikembangkan pertama kali oleh International Rice Research Institute (IRRI) pada 2009, metode ini telah diadopsi Kementan sejak 2013 dan teruji melalui enam musim tanam. Keberhasilan metode ini terletak pada fleksibilitasnya; petani tetap bisa menjaga ketersediaan air pada fase-fase krusial tanaman, seperti saat pemupukan atau masa bunting dan berbunga, sehingga risiko gagal panen akibat kekeringan dapat diminimalisir secara signifikan.
Langkah Kementan dalam mengarusutamakan metode AWD menjadi sinyal penting bahwa adaptasi teknologi adalah harga mati di tengah krisis iklim. Meski tantangan cuaca seperti "Godzilla El Nino" sulit diprediksi, efisiensi sumber daya melalui inovasi berbasis kearifan lokal dan teknologi tepat guna terbukti menjadi benteng pertahanan paling efektif. Ke depan, keberhasilan menjaga kedaulatan pangan nasional tidak lagi hanya bergantung pada ketersediaan lahan, tetapi pada seberapa cerdas kita mengelola tetes air demi keberlanjutan pertanian di masa depan.