Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, bersama Menteri Perdagangan, Budi Santoso, melakukan peninjauan langsung harga bahan pokok di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, guna memastikan stabilitas harga pasca-Lebaran. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah merespons keluhan pedagang mengenai lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai Rp6.000 per pak. Kenaikan harga ini disebut sebagai dampak langsung dari gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak bumi dunia, yang merupakan bahan baku utama bijih plastik.
Bagi para pedagang kecil seperti Gemi (58), kenaikan harga plastik bukanlah masalah sepele. Plastik merupakan komponen operasional vital yang sangat memengaruhi margin keuntungan harian. Ketika biaya kemasan melonjak, pedagang dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual produk yang bisa membebani konsumen, atau menekan margin keuntungan mereka sendiri yang sudah tipis. Situasi ini menjadi pengingat bahwa dinamika politik di belahan dunia lain ternyata memiliki "tangan panjang" yang mampu menyentuh langsung denyut ekonomi di pasar-pasar tradisional Indonesia.
Menanggapi fenomena ini, pemerintah tidak tinggal diam. Zulkifli Hasan memastikan bahwa pihaknya akan segera memanggil pihak-pihak terkait untuk membedah rantai pasok dan penyebab utama kenaikan harga bijih plastik. Langkah ini diambil agar pemerintah dapat melakukan intervensi kebijakan yang tepat sasaran, sehingga beban biaya produksi di tingkat pedagang pasar tidak terus membengkak dan memicu inflasi barang kebutuhan pokok.
Di sisi lain, kunjungan ini juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk memberikan kepastian mengenai ketahanan pangan nasional di tengah memanasnya situasi Timur Tengah. Zulkifli Hasan menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa cemas akan ketersediaan stok pangan. Menurutnya, Indonesia telah memiliki kemandirian pangan yang cukup kuat dan tidak bergantung pada impor dari kawasan konflik tersebut.
Ketergantungan Indonesia terhadap pasar internasional, khususnya untuk komoditas seperti kedelai dan gandum, lebih banyak bertumpu pada Amerika Serikat dan Eropa, sehingga pasokan domestik dipastikan tetap aman dari gangguan perang. Lebih jauh lagi, pemerintah mengklaim bahwa kebijakan swasembada yang telah dijalankan mampu menjaga cadangan pangan strategis. Beras, sebagai komoditas utama, diproyeksikan akan mengalami surplus hingga 4 juta ton tahun ini, menyusul capaian serupa pada tahun lalu. Begitu pula dengan komoditas lain seperti jagung, daging ayam, hingga telur yang dipastikan dalam kondisi stabil.
Sebagai penutup, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong atau panic buying. Stabilitas harga dan ketersediaan pangan di dalam negeri saat ini menjadi prioritas utama kabinet. Dengan cadangan pangan yang terukur dan koordinasi intensif dengan para pemangku kepentingan, pemerintah optimis bahwa gejolak ekonomi global tidak akan mengganggu akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok sehari-hari. Langkah preventif ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.