Mandiri Institute mencatat lonjakan aktivitas belanja masyarakat selama periode Ramadan hingga Lebaran 2026 dengan pertumbuhan Mandiri Spending Index sebesar 2,9 persen dibandingkan periode pra-Ramadan. Angka ini melampaui capaian tahun sebelumnya yang berada di level 2,8 persen, sekaligus mengonfirmasi bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga meski di tengah tantangan ekonomi global. Pertumbuhan konsumsi kali ini secara signifikan didorong oleh kelompok kelas menengah yang mencatatkan kenaikan belanja sebesar 4,1 persen, jauh meninggalkan kelompok bawah (2,1 persen) dan kelompok atas (2,6 persen).
Keberhasilan kelas menengah dalam memacu roda ekonomi nasional tak lepas dari peran krusial Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima. Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa kelompok menengah menjadi lokomotif utama akselerasi belanja tahun ini. Bahkan, intensitas belanja mereka tercatat 1,4 hingga 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Fakta ini menegaskan kembali posisi strategis kelas menengah sebagai penopang utama stabilitas konsumsi domestik, yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Selain faktor kelas menengah, demografi pelaku ekonomi tahun ini juga mengalami pergeseran yang menarik. Generasi Z tampil sebagai kelompok usia yang paling agresif dalam berbelanja, dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 4,4 persen. Angka ini terpaut cukup jauh dibandingkan generasi Milenial yang mencatat pertumbuhan 3 persen, serta Gen X di angka 1,4 persen. Perilaku belanja Gen Z yang masif ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi di kalangan anak muda yang lebih berani dalam mengalokasikan pendapatan mereka untuk gaya hidup.
Dampak nyata dari tren ini terlihat pada pergeseran prioritas belanja masyarakat. Jika pada tahun 2025 konsumsi masih didominasi oleh kebutuhan pokok atau barang esensial, tahun 2026 justru menunjukkan kepercayaan diri masyarakat untuk beralih ke barang non-esensial atau barang diskresioner. Sektor fesyen memimpin dengan pertumbuhan 6,4 persen, diikuti oleh produk perawatan tubuh (beauty care) sebesar 4,9 persen, dan perangkat elektronik sebesar 4,7 persen. Perubahan pola ini menjadi indikator positif bahwa masyarakat merasa lebih aman secara finansial untuk membelanjakan uangnya pada produk-produk penunjang gaya hidup.
Secara teknis, peningkatan belanja diskresioner ini memberikan sinyal kuat mengenai optimisme pasar. Ketika masyarakat mulai membelanjakan uangnya untuk sektor non-pokok, itu artinya tingkat kepercayaan konsumen terhadap stabilitas ekonomi sedang berada dalam kondisi yang sehat. Fenomena ini menciptakan efek domino positif bagi para pelaku usaha ritel dan industri manufaktur dalam negeri, yang pada akhirnya akan menjaga keberlangsungan siklus produksi dan distribusi di pasar nasional.
Ke depan, tantangan bagi pemerintah dan sektor perbankan adalah bagaimana menjaga momentum ini agar tidak berhenti setelah musim Lebaran usai. Peran aktif kelas menengah dan generasi muda dalam menggerakkan ekonomi perlu terus didukung dengan akses kredit yang sehat serta kebijakan fiskal yang memihak pada stabilitas daya beli. Mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar bagi PDB Indonesia, solidnya belanja masyarakat di periode Lebaran 2026 ini menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk menutup tahun dengan performa ekonomi yang lebih impresif.