Gejolak Geopolitik Timur Tengah Tekan Ekspor Perikanan Indonesia, Volume Anjlok 41 Persen

Diposting pada

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan penurunan signifikan pada volume ekspor produk perikanan Indonesia akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026. Data terbaru menunjukkan volume pengiriman komoditas perikanan ke pasar global merosot tajam hingga 41,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang secara langsung menyeret nilai ekspor nasional turun sebesar 21,71 persen.

Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP), Ishartini, menegaskan bahwa penurunan ini bukan disebabkan oleh lesunya permintaan pasar internasional. Sebaliknya, masalah utama terletak pada terhambatnya rantai pasok global. Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah memaksa perusahaan pelayaran mengubah rute pengiriman demi keamanan, yang berujung pada lonjakan biaya logistik, kelangkaan kontainer, hingga terbatasnya ketersediaan kapal pengangkut utama (mother vessel).

Dampak dari situasi ini cukup terasa bagi para pelaku usaha di sektor kelautan. Selain biaya operasional yang membengkak, ketidakpastian jalur distribusi menyebabkan harga produk perikanan Indonesia di luar negeri menjadi kurang kompetitif. Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini berisiko mengganggu arus kas eksportir nasional yang selama ini sangat bergantung pada kelancaran pengiriman ke 140 negara mitra dagang. Oleh karena itu, KKP kini fokus memperkuat penyerapan pasar domestik guna menjaga stabilitas perdagangan di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih sulit diprediksi.

Perlu dipahami bahwa sistem ekspor perikanan Indonesia sangat bergantung pada sertifikasi ketat, yakni Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP). Sertifikat ini merupakan instrumen wajib yang diakui oleh lebih dari 140 negara untuk memastikan standar keamanan pangan terpenuhi. Saat ini, Indonesia mengekspor 486 jenis produk berdasarkan HS Code, dengan sepuluh komoditas unggulan seperti udang vanname, tuna, cumi-cumi, hingga rumput laut yang menjadi andalan di pasar Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, hingga negara-negara ASEAN. Hingga pertengahan Maret 2026, total ekspor yang tercatat mencapai 197.718,80 ton dengan nilai transaksi sekitar Rp16,7 triliun.

Ketergantungan pada rantai pasok global memang menjadi titik lemah yang krusial bagi negara maritim seperti Indonesia saat terjadi konflik di jalur perdagangan utama. Meski produk perikanan kita memiliki reputasi mutu yang sangat baik di mata dunia, efisiensi logistik tetap menjadi penentu utama daya saing. Ke depan, diversifikasi jalur pengiriman dan penguatan infrastruktur logistik dalam negeri menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Stabilitas ekspor tidak hanya bergantung pada kualitas hasil laut, tetapi juga pada kemampuan kita menavigasi rute perdagangan dunia yang kini sedang berada dalam tekanan geopolitik yang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *