Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa pemerintah tengah mematangkan desain kemasan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ukuran 2 kilogram (kg). Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas kebutuhan masyarakat, khususnya pekerja harian, agar akses terhadap pangan pokok yang terjangkau menjadi lebih fleksibel. Saat meninjau Gudang Bulog Panaikang di Makassar pada Minggu (5/4/2026), Mentan menegaskan bahwa proses desain akan dipercepat dan ia siap langsung menandatangani persetujuan agar distribusi massal dapat segera dilakukan.
Keputusan menghadirkan kemasan yang lebih ekonomis ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam merespons dinamika kebutuhan rakyat di lapangan. Selama ini, beras SPHP memang sudah beredar luas di pasaran dengan kemasan 5 kg. Namun, pemerintah menyadari bahwa tidak semua segmen masyarakat memiliki pola belanja yang sama. Dengan menyediakan opsi kemasan 2 kg, beban pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pokok harian diharapkan bisa lebih terukur, terutama bagi mereka yang mengandalkan pendapatan harian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dari sisi harga, pemerintah menjamin tidak akan ada kenaikan biaya per kilogramnya. Harga beras SPHP kemasan 2 kg dipastikan tetap mengikuti acuan maksimal sebesar Rp12.500 per kilogram. Kebijakan ini sekaligus menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin adanya disparitas harga yang memberatkan konsumen. Terkait ketersediaan barang, Mentan memastikan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam kondisi sangat aman untuk mendukung program SPHP sepanjang tahun 2026, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan potensi kelangkaan saat kemasan baru ini resmi dipasarkan nanti.
Langkah strategis ini bukan sekadar soal perubahan ukuran kemasan, melainkan upaya pemerintah untuk memetakan kebutuhan pangan secara lebih presisi. Dengan menghadirkan opsi yang lebih kecil, pemerintah sebenarnya sedang mencoba menjembatani aksesibilitas pangan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan daya beli dalam sekali transaksi. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga di tengah fluktuasi harga pangan global yang terkadang berpengaruh pada pasar domestik.
Perlu diketahui bahwa program SPHP tahun 2026 sendiri memiliki target penyaluran sebesar 828 ribu ton beras. Penugasan ini didasarkan pada Surat Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 204/TS.03.03/K/2/2026 yang diterbitkan pada Februari lalu. Beras yang disalurkan merupakan kualitas medium dengan standar kadar air 14 persen dan tingkat pecahan 25 persen, sesuai dengan regulasi yang ditetapkan pemerintah untuk menjaga kualitas pangan nasional. Bulog sendiri telah diinstruksikan untuk menyalurkan beras ini langsung ke pasar-pasar rakyat agar rantai distribusi lebih pendek dan harga tetap terkendali.
Pada akhirnya, keberhasilan program SPHP sangat bergantung pada kedisiplinan distribusi di tingkat bawah. Kehadiran kemasan 2 kg nantinya diharapkan dapat memperkuat peran Bulog dalam membanjiri pasar dengan pasokan yang tepat sasaran. Jika pemerintah mampu konsisten menjaga suplai dan memastikan kemasan baru ini segera tersedia di warung-warung maupun pasar tradisional, maka stabilitas harga pangan nasional di tahun 2026 akan jauh lebih terjaga. Masyarakat kini tinggal menunggu realisasi janji pemerintah tersebut, yang diharapkan bisa hadir dalam hitungan hari ke depan.