Bapanas Klaim Telah Siapkan Mitigasi Dampak El Nino

Diposting pada

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa pemerintah telah belajar banyak dari tantangan serupa selama periode 2023–2024. Berbekal pengalaman tersebut, pemerintah optimistis dapat meredam dampak negatif El Nino terhadap stabilitas pangan. Hingga 2 April 2026, data menunjukkan stok beras nasional berada di angka aman, yakni sekitar 4,4 juta ton, atau 169 persen dari kebutuhan bulanan nasional. Komoditas lain pun terpantau stabil, dengan ketersediaan jagung sebanyak 168 ribu ton, gula konsumsi 49 ribu ton, dan minyak goreng mencapai 121 ribu kiloliter.

Secara fundamental, penguatan ketahanan pangan nasional tidak lagi bisa sekadar bergantung pada kebijakan pemerintah pusat. Keberhasilan menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang di pasar sangat bergantung pada sinergi dengan pemerintah daerah (Pemda). Ketut menegaskan bahwa setiap daerah wajib memiliki Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) yang mumpuni. Saat ini, sebanyak 322 kabupaten/kota telah memiliki cadangan pangan dengan total mencapai 14.169 ton, di mana Jawa Barat dan Banten menjadi wilayah dengan stok cadangan tertinggi. Langkah ini krusial untuk mempercepat respons distribusi apabila terjadi gangguan pasokan di tingkat lokal akibat cuaca yang tidak menentu.

Dampak nyata dari mitigasi yang terstruktur ini adalah terjaganya daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi pangan. Ketika daerah mampu mengelola cadangannya sendiri, ketergantungan pada pasokan pusat dapat diminimalisir, sehingga lonjakan harga akibat kelangkaan barang di tingkat ritel bisa dicegah. Keberadaan 33 provinsi yang kini telah memiliki regulasi pengelolaan cadangan beras menjadi bukti nyata bahwa kesadaran akan pentingnya kemandirian pangan daerah sudah mulai terbangun secara sistematis.

Perlu dipahami bahwa El Nino bukan sekadar masalah kekeringan, melainkan ancaman terhadap pola tanam dan siklus panen. Dengan menggenjot Luas Tambah Tanam, pemerintah berupaya memastikan bahwa meskipun curah hujan terganggu, produktivitas lahan tetap berada pada level optimal. Penyiapan pupuk yang didistribusikan lebih awal merupakan bentuk antisipasi agar petani tidak terhambat dalam memulai masa tanam, yang pada akhirnya akan menjaga kesinambungan rantai pasok dari hulu ke hilir.

Pada akhirnya, ketangguhan sistem pangan nasional adalah hasil dari kolaborasi berkelanjutan antara pusat dan daerah. Kewaspadaan harus terus dijaga, bukan untuk menebar kekhawatiran, melainkan sebagai bentuk kesiapsiagaan agar setiap mitigasi yang direncanakan dapat tereksekusi dengan sempurna di lapangan. Dengan ketersediaan stok yang kini melampaui kebutuhan bulanan, masyarakat diharapkan tetap tenang karena pemerintah telah menempatkan stabilitas pangan sebagai prioritas utama dalam menghadapi ketidakpastian iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *