PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang resmi menutup masa Posko Angkutan Lebaran 2026 pada Senin (30/3), seiring dengan berakhirnya periode puncak arus balik yang memadati lintasan Ketapang–Gilimanuk. Berdasarkan data operasional hingga Rabu (1/4), tercatat sebanyak 404 ribu penumpang atau sekitar 78 persen dari total pemudik telah berhasil kembali menyeberang ke Bali. Sementara untuk kendaraan, sebanyak 127 ribu unit telah melintasi selat tersebut, menyisakan sekitar 22 persen penumpang dan 23 persen kendaraan yang masih dalam perjalanan menuju Pulau Dewata.
Meskipun secara administratif masa posko telah berakhir, kondisi di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda. Hingga Selasa sore, antrean kendaraan sempat mencapai panjang 12 kilometer, turun tipis dari angka 14 kilometer yang sempat dilaporkan sebelumnya. Lonjakan volume kendaraan ini dipicu oleh kembalinya operasional kendaraan logistik secara penuh pasca-masa pembatasan selama Lebaran. Kehadiran truk-truk pengangkut logistik di jalan raya yang bercampur dengan arus balik masyarakat umum menciptakan kepadatan yang sulit dihindari di area sekitar pelabuhan.
Dampak dari kepadatan ini cukup signifikan bagi mobilitas masyarakat di wilayah Banyuwangi. Selain menciptakan waktu tunggu yang lebih lama bagi para pengendara, kemacetan ekstrem ini juga berdampak pada distribusi logistik nasional yang sempat tertahan di area pelabuhan. Ke depannya, fenomena ini menjadi evaluasi krusial bagi otoritas transportasi untuk memetakan kembali manajemen arus balik, terutama dalam mengintegrasikan jadwal kendaraan logistik agar tidak berbenturan dengan puncak arus balik penumpang pribadi yang cenderung masif dalam waktu bersamaan.
Untuk menanggulangi penumpukan yang masih terjadi, ASDP telah melakukan langkah taktis dengan menambah jumlah kapal yang beroperasi dari 33 unit menjadi 36 unit. Selain itu, optimalisasi buffer zone (area penyangga) terus dilakukan guna menampung antrean kendaraan sebelum memasuki area pelabuhan. Pengaturan pola pemuatan pun disebar ke berbagai titik, termasuk Dermaga Bulusan dan Dermaga LCM, agar distribusi kendaraan lebih merata dan tidak membebani satu titik dermaga saja.
Perlu dipahami bahwa pola operasional "Tiba Bongkar Berangkat" (TBB) kini hanya difokuskan pada Dermaga IV, sementara dermaga lainnya telah kembali ke pola reguler. Langkah ini diambil sebagai upaya transisi menuju kondisi normal pasca-libur panjang. Meski begitu, pihak ASDP tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dalam merencanakan perjalanan. Penggunaan aplikasi Ferizy sebagai kanal utama pembelian tiket menjadi syarat mutlak agar pengguna jasa tidak mengalami kendala saat sampai di pelabuhan.
Secara keseluruhan, puncak arus balik tahun ini tercatat terjadi pada Minggu, 29 Maret 2026, di mana 56.300 penumpang dan 19 ribu kendaraan menyeberang dalam satu hari, dengan dominasi sepeda motor sebanyak 12.458 unit. Data reservasi menunjukkan masih ada sekitar 11.889 kendaraan yang terdaftar namun belum masuk ke pelabuhan, yang menandakan bahwa pergerakan arus balik masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Menutup rangkaian arus balik tahun ini, kesiapan infrastruktur dan kedisiplinan pengguna jasa menjadi kunci utama kelancaran arus transportasi laut. ASDP berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan seluruh stakeholder terkait guna memastikan setiap pengguna jasa sampai ke tujuan dengan selamat. Bagi para pemudik yang belum kembali, sangat disarankan untuk terus memantau informasi resmi dari pihak pelabuhan guna menghindari puncak antrean susulan di tengah masa transisi pasca-Lebaran ini.