Pasar aset kripto di Indonesia resmi memiliki pemain baru setelah Indonesia Crypto Exchange (ICEx) meluncurkan operasionalnya secara penuh pada Kamis, 2 April 2026. Beroperasi di bawah naungan PT Fortuna Integritas Mandiri, entitas ini telah mengantongi izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 5 Januari 2026. Kehadiran ICEx melengkapi ekosistem pasar kripto tanah air dengan sistem yang terintegrasi, melibatkan International Crypto Custodian (ICC) sebagai penyimpan aset dan Crypto Asset Clearing International (CACI) sebagai lembaga kliring.
Langkah strategis ini bukan sekadar menambah jumlah bursa, melainkan upaya konkret untuk merebut kembali pangsa pasar yang selama ini banyak terserap oleh bursa luar negeri. Chief Technology Officer ICEx, Andrew Marchen, menyoroti data krusial bahwa hingga saat ini, sekitar 70 persen transaksi aset digital masyarakat Indonesia masih terjadi di platform global. Hal ini menyebabkan potensi ekonomi digital kita terus mengalir ke luar negeri. Bagi ICEx, fakta ini menjadi peluang besar untuk membangun ekosistem yang tidak hanya lebih inklusif, tetapi juga memiliki tingkat kepercayaan tinggi bagi investor domestik.
Kehadiran ICEx membawa dampak signifikan bagi peta persaingan aset digital di Indonesia. Dengan modal dasar yang mencapai Rp 1,1 triliun—pendanaan yang berasal dari kolaborasi antara pihak konglomerat dan para pelaku industri—bursa ini memiliki "amunisi" yang cukup kuat untuk melakukan ekspansi pasar. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah terciptanya stabilitas transaksi kripto yang lebih terjamin oleh regulasi OJK, sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik bagi investor ritel di tengah volatilitas pasar yang kerap terjadi.
Dari sisi operasional, ICEx memulai langkahnya dengan menggandeng 11 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang sekaligus berperan sebagai pemegang saham. CEO ICEx Group, Kai Pang, menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan saat ini adalah memastikan proses onboarding kesebelas anggota tersebut berjalan mulus. Sinergi ini dirancang untuk menciptakan ekosistem yang berfungsi secara optimal sejak hari pertama. Selain itu, ICEx telah menjalin kemitraan strategis dengan Danamu, operator bursa kripto Upbit asal Korea Selatan. Kerja sama ini difokuskan pada transfer pengetahuan (knowledge transfer) guna memacu Indonesia agar mampu bertransformasi menjadi pusat kripto di Asia Tenggara.
Melihat ke depan, ICEx memiliki ambisi besar untuk menggeser dominasi pemain lama dan memimpin pangsa pasar kripto nasional. Untuk mewujudkan visi tersebut, mereka tidak ingin hanya menjadi sekadar tempat jual-beli aset digital konvensional. Chief Financial Officer ICEx, Rizky Indraprasto, mengungkapkan bahwa perusahaan akan memfokuskan inovasi pada produk-produk derivatif dan tokenisasi aset dunia nyata (Real World Assets atau RWA). Strategi ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi para investor yang mencari diversifikasi instrumen investasi yang lebih modern dan teregulasi.
Dengan beroperasinya ICEx bersama CFX, kini Indonesia memiliki dua bursa kripto utama yang akan menjadi pilar ekonomi digital masa depan. Persaingan sehat antara kedua bursa ini diharapkan mampu memicu inovasi teknologi, menurunkan biaya transaksi, dan yang paling penting, membawa dana investor Indonesia kembali ke dalam negeri. Bagi para pelaku pasar, era baru kripto di Indonesia telah dimulai, dengan fokus yang kini bergeser dari sekadar spekulasi menuju ekosistem yang lebih matang, aman, dan berdaya saing global.