Menggenjot Produksi Migas Nasional, Pertamina Hulu Mahakam Operasikan Platform WPN-7 di Kalimantan Timur

Diposting pada

PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) resmi mengoperasikan Platform WPN-7 di lapangan lepas pantai Sisi Nubi, Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur, sejak 23 Maret 2026. Proyek strategis ini berhasil menyumbangkan tambahan produksi gas sebesar 20 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) guna memperkuat pasokan energi nasional. Keberhasilan operasional ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam memenuhi target produksi gas pada akhir kuartal pertama tahun 2026, sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan gas bagi kebutuhan domestik maupun industri.

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari komitmen perusahaan dalam menjalankan operasi hulu migas yang tidak hanya produktif, tetapi juga mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan sistem. Menurutnya, kesiapan tim dalam mengoptimalkan potensi lapangan yang sudah matang merupakan kunci utama. "Keberhasilan ini menunjukkan bahwa PHM mampu menjaga ritme operasional yang aman dan andal, yang pada akhirnya berkontribusi langsung pada upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional," ujar Setyo dalam keterangan resminya.

Dampak dari penambahan produksi ini cukup signifikan bagi neraca energi nasional. Di tengah tantangan penurunan produksi alami pada lapangan-lapangan migas tua, langkah PHM melakukan pengembangan di wilayah Sisi Nubi memberikan napas baru bagi stabilitas pasokan gas. Tambahan 20 MMSCFD ini tentu akan membantu menjaga ketersediaan energi bagi sektor kelistrikan dan industri, yang saat ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah proaktif ini juga membuktikan bahwa optimalisasi lapangan yang sudah ada (brownfield) tetap menjadi strategi yang efektif untuk menjaga volume produksi tanpa harus selalu bergantung pada penemuan baru.

Proyek WPN-7 sendiri mencakup dua sumur utama, yakni NB-701 dan NB-702. Sumur NB-701 menjadi yang pertama mengalirkan gas sebesar 9,8 MMSCFD pada 25 Maret, disusul oleh sumur NB-702 pada 26 Maret dengan kontribusi 12,5 MMSCFD. Sebelum mencapai titik ini, PHM telah menyelesaikan rangkaian proyek serupa secara bertahap, yakni operasional Platform WPS-4 pada Desember 2025 dan WPS-5 pada Februari 2026. Rentetan pengoperasian platform ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan untuk melakukan percepatan teknis di lapangan Sisi Nubi.

Untuk memastikan fasilitas ini beroperasi dengan standar keamanan tertinggi, tim teknis PHM telah melewati serangkaian prosedur ketat. Sebelum dialiri gas, fasilitas ini menjalani tes Emergency Shutdown (ESD) untuk memastikan sistem proteksi berfungsi optimal saat terjadi kondisi darurat. Selain itu, dilakukan pula uji kebocoran menggunakan nitrogen guna memastikan integritas fasilitas tetap terjaga sebelum hidrokarbon benar-benar masuk ke dalam sistem. Dalam proses produksinya, PHM menerapkan metode controlled ramp-up—peningkatan produksi secara bertahap melalui pengaturan choke—guna memastikan tekanan aliran tetap stabil. Penggunaan Sand Filter Unit juga diintegrasikan dalam fasilitas ini untuk menyaring partikel padat, sehingga keandalan mesin dan pipa penyalur dapat terjaga dalam jangka panjang.

Ke depan, PHM terus melakukan pemantauan intensif untuk menjaga kestabilan produksi. Keberhasilan operasional di Sisi Nubi ini memberikan sinyal positif bagi iklim investasi hulu migas di Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa dengan inovasi teknis yang tepat, lapangan migas yang sudah berumur tetap memiliki potensi ekonomi yang besar untuk terus dikembangkan. Konsistensi PHM dalam menjalankan proyek sesuai jadwal memberikan optimisme bahwa target produksi migas nasional bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan target yang bisa diwujudkan melalui manajemen operasional yang mumpuni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *