Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap dalam kondisi aman dan terkendali, meski tensi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat kian memanas. Dalam konferensi pers daring pada Selasa malam, 31 Maret 2026, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan ruang fiskal yang cukup sebagai "bantalan" (cushion) untuk meredam dampak guncangan ekonomi global, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak perlu merasa khawatir berlebihan terhadap stabilitas keuangan negara.
Untuk memastikan anggaran tetap berada di jalur yang direncanakan, pemerintah telah menerapkan serangkaian kebijakan efisiensi yang cukup ketat. Langkah konkret yang diambil meliputi penerapan sistem kerja dari rumah (work from home) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat, pembatasan penggunaan kendaraan dinas operasional hingga 50 persen, serta pemangkasan perjalanan dinas—baik domestik sebesar 50 persen maupun luar negeri hingga 70 persen. Kebijakan ini bukan sekadar upaya administratif, melainkan strategi taktis untuk mengalokasikan sumber daya lebih efektif di tengah ketidakpastian rantai pasok dan harga energi dunia.
Secara makro, kebijakan efisiensi ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan fiskal nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa kebijakan WFH bagi ASN diproyeksikan mampu menghemat anggaran kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 6,2 triliun. Lebih jauh lagi, jika efisiensi ini diikuti dengan pola konsumsi energi yang lebih bijak oleh masyarakat luas, potensi penghematan belanja BBM secara nasional diperkirakan mencapai Rp 59 triliun. Angka yang cukup fantastis ini memberikan ruang bernapas bagi pemerintah untuk tetap fokus pada prioritas pembangunan tanpa harus mengorbankan stabilitas ekonomi nasional akibat lonjakan harga minyak mentah global.
Penting untuk dipahami bahwa pengelolaan APBN saat ini tidak dilakukan secara reaktif, melainkan berdasarkan kalkulasi yang matang hingga akhir tahun. Pemerintah telah menggunakan asumsi nilai tukar dolar Amerika Serikat yang moderat dan terukur dalam setiap perhitungannya. Pendekatan ini dilakukan untuk meminimalisir risiko yang muncul akibat volatilitas pasar keuangan global. Dengan menjaga defisit agar tetap sesuai dengan target perencanaan awal, pemerintah berupaya memastikan bahwa seluruh program strategis nasional tetap berjalan sesuai jadwal tanpa terganggu oleh fluktuasi geopolitik di luar negeri.
Langkah-langkah efisiensi ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah berupaya proaktif dalam mengantisipasi skenario terburuk dari konflik Timur Tengah. Meski tekanan eksternal seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok sulit dihindari, kebijakan ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga. Konsistensi dalam menjaga disiplin fiskal menjadi kunci utama agar ekonomi Indonesia tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mampu menjaga pertumbuhan di tengah ketidakpastian global yang masih terus membayangi. Ke depan, pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi dan melakukan penyesuaian kebijakan jika diperlukan demi menjaga fondasi ekonomi nasional tetap kokoh hingga penutupan tahun anggaran.