Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (30/3/2026) di zona merah dengan koreksi tipis 0,08 persen ke level 7.091,67. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen negatif pasar global yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kian meluas, serta merembetnya ketegangan ke wilayah Yaman dan Israel. Kondisi serupa juga melanda bursa saham regional Asia, di mana indeks utama seperti Nikkei dan Hang Seng mencatatkan penurunan signifikan akibat kekhawatiran investor terhadap stabilitas keamanan global.
Secara teknis, kelompok saham unggulan LQ45 juga tidak luput dari tekanan, terkoreksi 0,20 persen ke posisi 717,49. Berdasarkan data perdagangan, tekanan jual lebih mendominasi pasar dengan 403 saham berakhir di zona negatif, sementara hanya 272 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor keuangan menjadi pemberat utama indeks dengan penurunan 1,28 persen, disusul sektor barang baku dan properti. Di sisi lain, sektor energi justru mencatatkan performa positif dengan kenaikan 2,31 persen, mencerminkan respons pasar terhadap lonjakan harga komoditas energi akibat kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia.
Dampak dari ketegangan geopolitik ini tidak hanya berhenti di lantai bursa. Ketidakpastian harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah memaksa pemerintah Indonesia untuk bersiap melakukan penyesuaian kebijakan fiskal. Pemerintah saat ini tengah mematangkan skema mitigasi, termasuk rencana efisiensi anggaran hingga wacana kembali menerapkan sistem kerja dari rumah (WFH) guna menekan konsumsi energi. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga APBN agar tidak terbebani oleh lonjakan subsidi BBM, sekaligus meminimalisir risiko pelebaran defisit anggaran yang bisa mengganggu stabilitas makroekonomi nasional.
Sebagai langkah konkret untuk menekan ketergantungan pada impor migas, pemerintah berencana memperkuat mandat penggunaan Biodiesel 50 persen (B50). Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi bantalan bagi ketahanan energi domestik di tengah fluktuasi harga minyak global. Meski demikian, masyarakat perlu bersiap dengan adanya potensi kenaikan harga BBM non-subsidi pada penyesuaian harga bulanan yang dijadwalkan pada 1 April mendatang. Pemerintah tampaknya berupaya keras menjaga harga BBM subsidi tetap stabil untuk mencegah lonjakan inflasi yang dapat menggerus daya beli masyarakat.
Eskalasi konflik ini mencapai titik krusial setelah kelompok Houthi di Yaman secara terbuka menyatakan keterlibatan langsung dalam perang tersebut. Melalui serangan rudal balistik ke situs militer Israel, kelompok ini menegaskan dukungannya terhadap Iran dan Hizbullah. Tindakan ini merupakan babak baru dari ketegangan yang sudah berlangsung sejak akhir Februari lalu, yang kini tidak hanya mengancam keamanan regional, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi rantai pasok energi global yang berdampak langsung pada biaya logistik internasional.
Ke depan, para investor domestik diimbau untuk tetap waspada dan bersikap defensif. Fokus pasar dalam beberapa pekan ke depan diprediksi akan tertuju pada dinamika harga minyak mentah dan kebijakan respon pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal. Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, diversifikasi portofolio dan pemantauan ketat terhadap sektor-sektor yang tahan banting, seperti energi dan logistik, menjadi strategi yang paling realistis bagi pelaku pasar untuk meminimalisir risiko di tengah gejolak yang mungkin terus berlanjut.