Bandung Menjadi Magnet Wisatawan: Okupansi Hotel Melonjak hingga 90 Persen di Libur Lebaran 2026

Diposting pada

Kota Bandung mencatatkan lonjakan sektor pariwisata yang signifikan selama periode libur Lebaran 2026. Data terbaru dari Pemerintah Kota Bandung menunjukkan bahwa tingkat hunian hotel (okupansi) untuk kategori bintang tiga hingga bintang lima melesat di atas 50 persen dibanding hari biasa, bahkan menembus angka 90 persen pada puncak arus wisata, yakni H+2 dan H+3 Lebaran. Lonjakan ini sejalan dengan membeludaknya jumlah wisatawan ke Kota Kembang yang mencapai lebih dari 723 ribu orang, dengan mayoritas pelancong berasal dari wilayah Jabodetabek.

Dampak dari tingginya animo wisatawan ini menjadi angin segar bagi pemulihan ekonomi lokal. Sektor perhotelan dan jasa pendukung lainnya merasakan langsung aliran perputaran uang yang signifikan, yang diharapkan mampu mendongkrak daya beli masyarakat. Meski demikian, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menekankan bahwa capaian ini bukanlah titik akhir. Ia meminta para pelaku usaha perhotelan untuk tetap menjaga standar pelayanan agar para wisatawan mendapatkan pengalaman berkesan dan kembali berkunjung ke Bandung di masa mendatang.

Di balik gegap gempita libur lebaran, Bandung sebenarnya sedang berupaya keras mengejar target pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius. Saat ini, angka pertumbuhan ekonomi Bandung berada di level 5,27 persen. Angka tersebut memang positif, namun masih jauh tertinggal dibandingkan capaian pra-pandemi yang mampu menyentuh kisaran 7 hingga 8 persen. Kesenjangan angka ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah kota dalam merumuskan strategi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan.

Salah satu hambatan utama dalam menggenjot ekonomi Bandung saat ini adalah keterbatasan infrastruktur transportasi dan perlambatan di sektor industri pengolahan. Wali Kota Farhan menyoroti belum optimalnya operasional Bandara Husein Sastranegara sebagai salah satu faktor yang menahan potensi kunjungan lebih luas. Padahal, jika akses transportasi udara tersebut dapat diaktifkan kembali secara maksimal, kontribusi sektor transportasi diyakini akan langsung melonjak dan menjadi mesin penggerak ekonomi kota. Selain itu, kebijakan pembatasan industri besar di dalam wilayah kota turut membatasi kontribusi sektor manufaktur, sehingga Bandung kini lebih mengandalkan sektor jasa dan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah kota kini tengah melakukan lobi intensif kepada pemerintah pusat agar operasional bandara dapat kembali normal. Kolaborasi lintas sektor juga menjadi kunci; pelaku usaha diajak untuk tidak hanya sekadar mencari keuntungan jangka pendek saat musim liburan, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem bisnis yang tahan banting.

Ke depan, keberhasilan Bandung dalam mempertahankan daya tariknya tidak hanya bergantung pada destinasi wisata semata, tetapi juga pada kemampuan kota dalam membenahi aksesibilitas dan infrastruktur pendukung. Jika konektivitas transportasi dapat segera dibenahi dan kualitas layanan terus ditingkatkan, optimisme untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi ke angka 8 persen bukan lagi sekadar impian, melainkan target yang sangat realistis untuk dicapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *