Antisipasi Puncak Arus Balik, ASDP Siagakan 55 Kapal di Lintasan Ketapang-Gilimanuk

Diposting pada

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) resmi menyiagakan 55 unit kapal untuk melayani arus balik Lebaran 2026 di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Demi memastikan kelancaran operasional, perusahaan menyiapkan skema penempatan 28 hingga 32 kapal per hari yang disesuaikan dengan tiga kondisi trafik, yakni pola normal, padat, hingga sangat padat. Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, secara tegas mengimbau masyarakat untuk menghindari perjalanan pada tanggal-tanggal krusial arus balik yang diprediksi terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret 2026 mendatang.

Langkah mitigasi ini menjadi krusial mengingat data pergerakan kendaraan yang terus menunjukkan tren peningkatan. Hingga H+1 Lebaran, tercatat total 63.085 unit kendaraan telah menyeberang, atau naik sekitar 1,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan paling signifikan terlihat pada kategori kendaraan roda dua yang melonjak hingga 34,2 persen, serta truk logistik yang naik 30 persen. Data ini menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat pasca-Lebaran masih sangat tinggi, sehingga manajemen lalu lintas pelabuhan harus bekerja ekstra keras untuk mencegah penumpukan di dermaga.

Dalam upaya menjaga stabilitas layanan, ASDP bersama otoritas terkait seperti KSOP, BPTD, dan Kepolisian telah menyiapkan skenario darurat. Jika antrean kendaraan di kantong parkir Pelabuhan Ketapang mencapai angka 972 unit mobil, pola operasional Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) akan segera diberlakukan. Skema ini memungkinkan kapal untuk langsung kembali beroperasi tanpa harus menunggu muatan penuh, sebuah langkah taktis untuk mempercepat penguraian antrean yang kerap menjadi titik krusial kemacetan.

Selain optimalisasi armada, peran buffer zone atau kantong parkir penyangga menjadi pilar utama dalam manajemen lalu lintas terpadu. ASDP telah menyiapkan area seperti Grand Watudodol dan Bulusan dengan kapasitas 900 kendaraan untuk menampung mobil pribadi dan bus. Sementara itu, kendaraan logistik dialihkan ke terminal khusus seperti Sritanjung dan Pelindo Tanjung Wangi. Pengaturan ini bukan sekadar upaya memecah konsentrasi kendaraan, melainkan strategi preventif agar akses masuk pelabuhan tetap steril dan alur distribusi tetap berjalan lancar meski di tengah tekanan lonjakan volume kendaraan.

Di balik kesiapan teknis tersebut, keberhasilan arus balik sangat bergantung pada kedisiplinan para pengguna jasa. ASDP mengingatkan pentingnya membeli tiket secara daring melalui aplikasi Ferizy atau laman resmi jauh hari sebelum keberangkatan, mengingat tiket sudah tersedia sejak 60 hari sebelumnya. Kesiapan armada berkapasitas besar, seperti KMP Portlink VII, memang telah dikerahkan, namun tanpa perencanaan perjalanan yang matang dari masyarakat, potensi kepadatan di area pelabuhan akan tetap sulit dihindari.

Sebagai penutup, sinergi antara kesiapan infrastruktur, koordinasi lintas instansi, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan arus balik yang aman dan nyaman. Meski ASDP telah menjamin bahwa seluruh langkah mitigasi telah terukur dan adaptif terhadap cuaca maupun lonjakan trafik, efektivitas sistem ini tetap memerlukan kerja sama pengguna jasa. Dengan memilih waktu keberangkatan yang tepat dan memastikan tiket sudah di tangan, perjalanan mudik balik tahun ini diharapkan dapat berlangsung lebih tertib dan minim hambatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *